PENGANTAR
Mozaik An NUR disampaikan kepada seluruh jama’ah Masjid An NUR di lingkungan RW 10 Perum Griya Alam Sentosa sebagai salah satu sarana komunikasi dan tausiah dua arah antara Pengurus DKM dengan jama’ah masjid.
Edisi perdana ini meliputi profil pengurus inti pendiri awal DKM, hikmah dan pelajaran singkat dari ibadah seputar Hari Raya Idhul Adha.
Selamat Bertafakur dan Bertakbir.
–ooOOoo–
HIKMAH
Syaikh Dr. Aidh al Qarni
Kami pernah berkata kepada salah seorang ulama, yang mulia, para aulia. Nasihatilah kami yang bisa membangkitkan jiwa. Jiwa kami sedang sakit karena dosa. Sayap kami lunglai karena kesalahan. Kami telah lama tenggelam dalam dosa. Kami membangkang Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib. Hingga akhirnya hati kami menjadi kesat.
Ulama itu mengungkapkan nasihatnya:
Wahai Ibnu Adam, kalian melakukan dosa tanpa penyesalan? Sementara para nabi menangis, dan orang-orang shaleh mengeluh. Tapi kalian terus menerus melakukan dosa dan menganggap ringan dengan Allah Yang Maha Mencabut nyawa? Bagaimanakah engkau mampu bermain-main dengan neraka? Bagaimanakah engkau bisa meremehkan Allah Yang Maha Memaksa? Bagaimanakah engkau menganggap enteng Allah Yang Memberimu makan dan Memberimu minum, Yang menjadikanmu mampu berjalan dan menjadikanmu mampu duduk? Tapi kemudian engkau bangkit dan bergerak melawan titah-Nya? Padahal Kekuasaan-Nya sangat tinggi, Kemampuan-Nya tidak ada yang menandingi, Raja Diraja ini sangat mampu menghancurkanmu, Memendekkan usia kematianmu dan Memutus semua harapanmu?
Dimanakah pikiranmu wahai orang yang tertipu?
Apakah engkau lupa hari penyeberangan dan waktu melewati neraka?
Semua burung bisa jatuh tersungkur karena takutnya. Seluruh yang keras menjadi lemah tak berdaya karena takut kepada-Nya. Abu Bakar ra, ketakutannya menjadikan tubuhnya berbunyi seperti burung. Dadanya bergemuruh seperti gelegak air. Umar al Faruq ra jatuh tersungkur di atas tanah karena takut. Ali bin Abi Thalib ra bertumpah air matanya karena berdzikir.
Umar bin Abdul Aziz ra pun dadanya bergemuruh karena tangis. Ia mengatakan, “Wahai kaumku. Ingatlah waktu pagi di harimu. Demi Allah, andai Al Quran ini datang kepada hamparan tanah, niscaya ia meledak. Dan jika turun di atas batu, nscaya batu itu akan terpecah belah. Tapi kalian membaca Al Quran sambil lalai dan santai. Engkau tetap memikirkan tentang jabatan dan kedudukan. Seolah malam demi malam tidak berguna bagimu. Seolah perkataan tidak ada lagi manfaatnya untukmu.” Engkau kubur orang-orang tua, kakek dan nenek. Lalu engkau kehilangan sanak saudara dan bahkan anak-anak. Tapi engkau masih terus berlalu dalam pembangkangan. Maha Suci Allah, mengapa engkau begitu tertipu dengan masa muda? Engkau berhias dalam berpakaian, tapi engkau lupa saat dirimu ditimbun tanah.
Engkau enggan berwudhu bila air menjadi dingin. Sedangkan Hanzalah dimandikan Malaikat di langit. Engkau melawan panggilan hayya ‘alal falaah. Sementara Mush’ab bin Umair mengajukan dadanya untuk tertembus tombak. Ketahuilah, sungguh kematian memanggilmu ratusan kali setiap hari. Demi Allah, andai dalam kayu ada hati, niscaya ia akan berteriak. Jika pada batu ada nyawa, pasti akan merintih tangis. Sungguh dahulu, mimbar Rasulullah yang mulia dan suci telah berteriak, mengeluh dan menangis saat ditinggal sang Nabi. Tapi engkau tidak pernah menangis dan merintih. Andai engkau sudah wafat, mungkin bisa dimaklumi. Dan kami akan mengunjungi kuburmu.
Tapi engkau masih hidup, makan dan minum! Kemudian engkau bersenda gurau, bermain, menari dan menyanyi?!
Saat engkau dihempaskan tanpa alasan. Maka infaqkanlah hartamu. Periksalah amal-amalmu. Timbanglah perkataanmu. Perhatikanlah langkah-langkahmu. Lihatlah aib dan kekurangan yang engkau tinggalkan. (Dikutip dari Tarbawi).
PROFIL
Periode DKM : I (1996 – 2000)
Ketua : Bapak Sulkan
Bendahara : Bapak Asep Gunawan
Sekretaris : Bapak Ayi Mulyana
Latar belakang :
Masjid (awalnya mushala) An Nur pertama kali dibangun dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan sarana ibadah yang dekat dengan warga perumahan RW 10 yang kala itu masih sangat sedikit.
Harapan :
1. Agar kepengurusan sekarang mampu menyelesaikan permasalahan terkait status lahan dengan cara yang baik sesuai aturan yang berlaku.
2. Agar pembangunan secara fisik tidak diprioritaskan terlebih dahulu.
TUJUH KUNCI KEBAIKAN
“Barang siapa yang memelihara tujuh perkara, maka ia akan menjadi orang yang mulia disisi Allah dan dihadapan malaikat. Allah akan meng-ampuni dosanya meski seperti buih di lautan. Ia akan merasakan nikmatnya melaksanakan ketaatan. Dan hidup matinya akan berada dalam kebaikan.
Pertama, membaca basmalah setiap akan memulai sesuatu,
Kedua, membaca hamdalah setiap kali selesai mengerjakan sesuatu,
Ketiga, membaca istighfar setiap kali melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat,
Keempat, mengucapkan insya Allah setiap kali berjanji melakukan sesuatu,
Kelima, mengucapkan hauqalah setiap kali menemukan yang tidak disenangi,
Keenam, mengucapkan istirja’ setiap kali tertimpa musibah, dan
Ketujuh, banyak membaca syahadah, baik siang maupun malam hari.
(Al Faqih Abu Laits rahimahullah)
Lima isyarat dari pelaksanaan Ibadah Haji untuk pembangunan masyarakat yang kokoh.
Berbaik sangka pada Allah
Nabi Ibrahim As dan Siti Hajar telah meneladankan sikap yang sangat positif terhadap Allah Swt. Nabi Ibrahim As diperintahkan untuk mengungsikan Hajar dan putranya bayi Ismail ke Mekah, padang tandus dan sunyi. Tidak ada kehidupan, tidak ada manusia (apatah lagi masyarakat), tumbuh-tumbuhan, binatang bahkan air sekalipun. Begitu pula saat perintah mengurbankan Ismail remaja. Keluarga ini tidak memiliki sudut pandang negatif terhadap perintah Allah Swt, selain melihat sisi baiknya, yaitu ketaatan.
Disiplin dalam bersyariat
Ibadah haji dan kurban adalah pelaksanaan dari salah satu syariat Allah Swt. Seorang muslim harus menunjukkan kedisiplinannya untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan syariat, hukum atau undang-undang Allah Swt. Disiplin dalam bersyariat akan membuat seorang muslim tidak tergoyahkan oleh komentar-komentar negatif dari kaum kafir, fasiq, munafiq atau mereka yang berhaluan liberal.
Kejujuran
Seluruh peribadatan mendidik kita untuk menjadi orang yang jujur, yaitu orang yang setia pada kebenaran. Kejujuran adalah pangkal kebaikan. Padahal kebaikan adalah kunci meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Gerakan dinamis perbaikan
Ibadah haji adalah ibadah yang memiliki unsur mobilitas paling dinamis dan menyeluruh. Tidak hanya gerakan fisik, melainkan juga gerakan massa. Gerakan massa dalam thawaf, sa’i, wuquf, melontar jumrah adalah wujud gerakan masyarakat.
Pengorbanan
Idul Adha adalah hari raya kurban. Sebuah hari raya yang dikhususkan untuk menggoreskan kembali ruh berkorban, bahkan dengan simbol darah dan nyawa, untuk mendekatkan diri pada Allah Swt. Ini juga pembelajaran yang penting, bahwa mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah prioritas tertinggi dan terbaik, yang disimbolkan dengan darah dan nyawa – untuk mengingatkan kita pada kualitas tertinggi ketaatan pada-Nya, yaitu berjihad dengan berkubang darah hatta meregang nyawa. Itu lah setinggi-tingginya ibadah, yaitu mempertaruhkan jiwa untuk kemuliaan tempat disisi Yang Maha Mulia kelak.
—oooOOOooo—
SEGENAP DKM AN NUR MENGUCAPKAN:
SELAMAT
HARI RAYA IDUL ADHA
HARI RAYA KURBAN 1428 H.
Semoga Allah Swt merahmati kehidupan kita dengan kemuliaan bersemangat dalam memperjuangkan tegaknya harga diri dan kehidupan Islami,
Salam Takdziem
Ustadz Tahmid
Ditulis dalam Buletin | Tag: aidh al qarni, hikmah, kebaikan, kejujuran, kunci, kurban, masjid, pengorbanan, tahmid, ulama, umar bin abdul aziz